Aku menatapmu lekat - lekat.
Mengamatimu seluruh gerakanmu, lalu dunia berputar dengan lambat.
Mengingat bahwa mungkin ini adalah saat terakhir aku bisa melihatmu dari jarak dekat.
Aku menatapmu lekat - lekat.
Mengamatimu seluruh gerakanmu, lalu dunia berputar dengan lambat.
Mengingat bahwa mungkin ini adalah saat terakhir aku bisa melihatmu dari jarak dekat.
Rinduku padamu datang. Beramai-ramai, menyerang.
Menabrak dinding keegoisanmu, lalu berjatuhan. Ribuan. Seperti rintik hujan.
Rindduku menggenangi tanah, berharap diserap. Olehmu, yang hanya bisa kutatap.
Tuhan aku memiliki rindu. Ada, berjuta -juta. Sebagian besar untuk Mu. Sebagian lagi untuk orangtua ku. UntukMu, aku yakin Engkau sudah tahu. Untuk orangtua ku, kutitipkan rinduku untuk mereka melalui doa.
Mungkin kita pernah saling jatuh cinta. Mungkin kita pernah saling menyisipkan nama dalam setiap doa. Mungkin kita pernah saling bayangkan jari jemari mengikat, membentuk apa yang disebut hangat.Mungkin kita pernah saling nyanyikan irama yang sama, penjumlahan nada dua aroma.Mungkin kita pernah saling menumpuk beribu tanda tanya, sudikah kiranya Tuhan kabulkan semua harapan? Mungkin kita pernah saling sesalkan apa yang pernah diputuskan. Mungkin kita pernah saling memperhatikan dari jauh, tanpa berani menyentuh, lalu dengan sadar menyadarkan batin yang masih juga ingin merengkuh.Ya, mungkin kita pernah saling jatuh cinta. Dan mungkin cinta kamu yang terlebih dulu bangun, lalu pamit tanpa ampun. Tanpa pernah menyangka cinta saya masih pikun, lupa caranya bangun, dan berhenti melamun.
(Kalimat diatas kalimat yang bisa dibilang “ini saya banget”, dikutip dari link ini : http://poscinta.com/catatan-lepas-kita/)
Ada yang jatuh di hatiku. Sepertinya itu namamu.
Lalu dia pecah, remah huruf hurufnya merebak ke seluruh paru paru.
Meleleh merembes membasahi pori nodi.
Menjalar, melaju menuju kepala
Kemudian membelah diri berjuta-juta.
Masih. Masih membelah diri.
Tak bisa berhenti.
…
Orang orang disekelilingku tertawa renyah. Saling bercerita tentang pasangan mereka. Tentang kebahagiaan mereka. Aku juga ikut tertawa mendengar cerita mereka. Tertawa yang tak cukup lama, karena seketika gaungan tawa mereka menyeretku untuk mengingatmu. Lagi.
Kita saling menebak dalam ragu. Entah karena kita yang saling malu-malu atau memang kita yang sengaja pura-pura untuk tidak tahu.
Untukmu? Tak pernah aku mengenal rindu sebagai beban. Bagiku, rindu hanyalah jutaan perasaan senang yang tertawan.
Hati yang berbunga-bunga membawa semerbak warna dan rasa yang tidak terukur. Semoga kelak tidak untuk dipetik satu persatu, lalu dikumpulkan, dan kemudian ditaburinya bunga-bunga itu di atas makam hati yang patah.
Hahaha Tuhan.. Sudahlah, lelucon ini terlalu lucu. Perutku bahkan sudah terlalu sakit untuk lanjut menertawakan. Aku mohon hentikan, atau setidaknya buatlah aku berhenti tertawa.